Tuesday, November 19, 2013

Goodbye Mimmy, my lovely doggy

Sebelum mimmy mati, hati saya sudah bertekad untuk kembali menulis blog tentang mimmy. Hari ini subuh jam 4 pagi, saya masi mendengar mimmy menggonggong kecil. Saya bangun dan bilang sama adik saya, sela untuk kasih mimmy minum dan makan.  Karena kondisi nya memang sudah sekarat. Ga bisa bangun, dan makan pun hanya bisa bubur. Itu pun harus disuapin.

Saya teringat ketika awal saya mengambil mimmy dari rumah tante kenalan papa saya, saya mengambil nya pun sambil menangis. Karena saya waktu itu baru kehilangan anjing juga. Moppy dan pinky yang dibuang sama mama papa saya (sampe saya luka batin waktu itu :P). Dan pada saat saya menggendong mimmy, ada bisikan dalam hati saya, suatu saat ketika mimmy mati, saya pun akan menangisi dia. Itu sudah terjadi 18 tahun yang lalu. Ketika saya masih kelas 2 smp.

Banyak pengalaman indah bersama dengannya. Dulu kebanyakan saya yang mengurusi si mimmy. Namun ketika saya menikah, mimmy diurusin sama sela. Dan saya pindah ke bintaro. Namun ketika hamil, saya kembali ke permata buana hingga saat ini. Mimmy udah pernah ikut pindah rumah 2x. Dia pernah hilang di jalan dan akhirnya ditemukan kembali. Dan itu terjadi berkali-kali. Dia pernah sakit hampir mati pun sudah 2x. Pertama karena dia mengalami pendarahan karena dikawinin anjing lain. Kedua kali nya karena kakinya luka dan tampaknya kena pukul anak kampung. Saat itu saya dan keluarga berdoa tumpang tangan. Dan Tuhan berikan kesembuhan. Tuhan berikan kesempatan untuk bersama-sama dengan kami. Tuhan tau, hati saya belum rela untuk melepaskan dia.

Namun sebulan terakhir ini, mimmy mengalami serangan jantung. Saya dan sela sampai takut melihatnya. Tubuhnya kaku hingga melengkung dan mulutnya menganga. Saya pikir, mimmy akan mati saat itu juga. Tapi ternyata enggak. Semenjak itu kondisinya semakin melemah. Dan ia pun buta. Jalan aja susah dan nabrak sana sini. Poop dan buang air kecil dimana-mana. Padahal selama dia sehat, dia termasuk anjing yg bersih. Selalu buang airnya di taman. Ia akan menggonggong untuk minta pintu dibukakan. Saya tau, saya harus merelakan mimmy. Dan saya berdoa untuk yang terbaik yang terjadi. 

Kondisi mimmy sminggu terakhir ini semakin menurun drastis, dia ga bisa jalan lagi. Kena serangan jantung pun berkali2. Dokter pun mengatakan bahwa semangat hidup mimmy masih besar. Dan dokter sendiri yg bilang lebih baik pergi secara normal drpd di suntik mati (padahal kita blm ngomong apa2). Dan saya pun setuju untuk mimmy mati secara normal. Lucunya, si ticya beberapa hari ini bisa bye bye ke mimmy. Selalu dia melihat mimmy dan tangannya bye bye mimmy dan mulut kecilnya berkata daah...(^^). Hanya tinggal menunggu waktu saja.

Pagi2, yang pertama kali bilang mimmy mati adalah papa. Trus mama. Lalu saya keluar kamar dan mengecek kondisinya. Nafasnya sudah ga ada lagi. Saya langsung menangis. Tapi saya tau kalo saya sudah rela. Saya sedih karena kehilangan tapi sekaligus saya bersukacita karena mimmy kembali dalam pangkuan Tuhan. 

Walaupun hanya seekor anjing, mungkin yang blm pernah memelihara anjing susah untuk mengerti kesedihan saya, Tapi hal itu sama dengan kehilangan orang yang dikasihi.
Ia sudah menjadi keluarga kami selama 18 tahun ini. Ia sudah berbagi suka dan duka bersama kami.
Kenangan bersama mimmy akan selalu hidup didalam ingatan kami.
Terima kasih sudah mendampingi keluarga kami.
Terima kasih sudah menghibur keluarga kami.

Love you so much my doggy..We will miss you...Good bye..

Monday, April 8, 2013

Out From Comfort Zone


Semenjak kelahiran Ticya, dunia saya penuh dengan warna warni seperti pelangi. Walaupun secara fisik saya suka lelah semenjak punya baby, tapi hidup saya lebih cerah dengan kehadiran buah hati kami. 10 Bulan sudah dilalui bersama semenjak kelahirannya. Dan 10 bulan ini juga saya harus membuat keputusan yang cukup berat untuk diri saya. Saya terpaksa meninggalkan pekerjaan saya sebagai bagian keuangan di sekolahan Springfield. Sudah 8 tahun saya bekerja di sekolah, semenjak saya masih single, pacaran, married hingga punya anak. Saya bekerja 9 jam dari jam 8 pagi hingga 5 sore. Tentu saja itu membuat SF menjadi keluarga ke2 saya.  Saya bersyukur mempunyai tempat pekerjaan yang lingkungannya nyaman bagi diri saya.

Kenapa saya mengambil keputusan ini? Karena suami pengen saya berhenti untuk mengurus ticya di rumah. Plus mama saya yang sangat berperan menjaga ticya selama saya kerja juga mengatakan lelah. Maklum saya ga pake suster, karena sampai saat ini saya masih kurang sreg menggunakan jasa suster. Suami mengharapkan setelah saya melahirkan, saya berhenti bekerja untuk mengurus ticya. Tapi saya tetep ingin bekerja, sampe akhirnya niat untuk berhenti pun muncul. Saya bergumul didalam doa dan memohon supaya Tuhan menunjukkan jalan yang terbaik untuk saya dan keluarga saya. Hingga beberapa tanda telah diberikan dan hati semakin teguh untuk berhenti. Tibalah hari terakhir saya bekerja di SF pada tanggal 15 maret 2013. Jujur, saya sedih berpisah dengan teman-teman lingkungan kerja saya. Dan saya sangat terharu atas perhatian yang mereka berikan pada saya.


Pribadi saya sungguh dibentuk ditempat saya bekerja. Saya menjadi sekarang ini berkat lingkungan saya bekerja juga. Ini lah saat saya melangkah keluar dari zona nyaman dan aman.

Semua teman-teman pada bilang (termasuk atasan2 saya), kalo saya itu tipe yang ga betah di rumah. Dan itu memang benar sekali. Saya berdoa dan mengamati setiap gerak roh  yang ada dalam batin saya, saya lebih baik tetap punya aktivitas kerja. Kalo gak, banyak pikiran-pikiran negative yang timbul.  Dan akhirnya keputusan mencari pekerjaan part time pun saya buat. Saya tetap meluangkan waktu lebih banyak untuk ticya dan saya pun tetap bisa aktualisasi diri. Namun saat didalam pergumulan mencari pekerjaan part time, saya membutuhkan juga bimbingan Tuhan. Pekerjaan seperti apakah yang bisa saya kerjakan. Saat itu saya cukup tertarik menjadi agen properti.  

Dan Tuhanlah yang menunjukkan jalan-Nya. Tidak ada yang kebetulan. Saat saya sedang bersiap tugas lektor, tiba-tiba saya bertemu dengan seorang kenalan saya waktu KEP di ruang sakristi. Beliau mempunyai kantor property. Lalu saya bertanya dan kemudian diajak untuk melihat terlebih dahulu. Ternyata di kantor beliau pun setiap hari diadakan ibadat pagi. Saya melihat saya mempunya visi dan misi yang mirip dan setelah  saya bawakan dalam doa, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung. Saya pun teringat akan perkataan sahabat saya, bahwa lebih baik sebagai seorang istri bisa bekerja menghasilkan uang, agar menjadi “back up” ekonomi didalam keluarga. Saya memasuki zona ketidaknyamanan. Saya harus belajar dari 0 lagi, karena property adalah dunia baru bagi saya. Saya tidak menerima salary, semua tergantung dari komisi penjualan saya. Disinilah Tuhan kembali membentuk saya. Plus nama saya berubah menjadi THERESIA LINDA. Karena nama Melinda sudah terpakai dan nama linda pun sudah terpakai. Sehingga baru kali ini saya menggunakan nama babtis saya.

Saya teringat akan kisah Paulus dimana ia dituntun oleh Roh Kudus didalam perjalanannya. Bahkan seringkali terjadi di luar rencana. Tapi Paulus tetap taat mengikuti dorongan Roh Kudus daripada kehendak dirinya. Didalam kehidupan saya pun, saya tidak tau kemana Tuhan akan membawa saya terutama didalam pekerjaan. Lembaran baru telah saya buka dan saya kembali menuliskan kehidupan baru saya mengenai pekerjaan. Tapi saya percaya, saya akan semakin dibentuk menjadi bejana yang indah.

Untuk teman-teman yang mungkin saat ini sedang bergumul juga untuk keluar dari zona nyaman, Semoga Tuhan menunjukkan jalan-Nya dan timbul keberanian didalam melangkah dalam zona ketidaknyamanan, dan bersandar sepenuhnya kepada-Nya.

Tuhan memberkati

-Linda-